
“Krisis ekonomi yang terjadi saat ini memang tidak begitu berpengaruh terhadap penjualan produk kulit sapi ini. Semua masih berjalan normal, dan bahkan masih bisa diekspor ke beberapa negara di Timur Tengah,” kata Khomari, salah seorang perajin rambak.
Ia mengatakan, terpaan krisis ekonomi global saat ini memang tidak begitu berpengaruh. Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah tingginya curah hujan yang terjadi di kabupaten setempat dalam beberapa pekan terakhir.
“Tingginya curah hujan berpengaruh pada proses pengeringan bahan baku rambak yang berasal dari kulit sapi,” katanya menjelaskan.
Untuk satu ton kulit sapi, lanjut Khomari, proses pembuatan krecek rambak biasanya memakan waktu sekitar sepekan. Namun, karena panas matahari berkurang, prosesnya memakan waktu hingga 10 hari, bahkan lebih.
Pembuatan krecek rambak itu sendiri dimulai dari pengeringan kulit sapi yang masih basah. Setelah kulit sapi kering kemudian direndam menggunakan air kapur. Berikutnya dijemur sampai kering. “Baru setelah itu, kulit sapi yang sudah diproses ini diberi bumbu dan diiris dengan ukuran kecil-kecil.”
Sementara untuk krecek rambak ekspor, dia tidak langsung mengekspornya sendiri. ”Untuk ekspor, kami mengirimkannya melalui salah seorang pengusaha yang berada di Jawa Tengah. Selanjutnya pengusaha itulah yang mengirim krecek rambak itu ke Timur Tengah,” katanya.
Saat ini, harga jual krecek rambak berkisar Rp 54.000 per kilogram. ”Harga ini harga tertinggi dengan kualitas krecek rambak nomor satu, sedangkan untuk kualitas nomor dua Rp 45.000/kg,” katanya.
Kami kutip dari http://harianjoglosemar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=33463
1 komentar:
Halo min bisa kasih tau nama tempat yg ekspor nya kah?
Posting Komentar